Strategi Menuju Data-Driven Company

  1. Home
  2. Blog
  3. Strategi Menuju Data-Driven Company
No Comments
Blog

Setiap keputusan akan memiliki efek makin tajam ketika didasari analisis data. Simak bagaimana MatahariMall, Gojek, Bank Mandiri, dan Citilink memanfaatkan data untuk kemajuan bisnis mereka.

Data-driven company pada dasarnya adalah perusahaan yang bisa mendasari setiap keputusan berdasarkan data. Tidak cuma itu. Hasil setiap keputusan itu juga terus diukur, sehingga perusahaan bisa mengetahui apakah keputusan yang mereka ambil berhasil menjawab masalah atau tidak. Jika tidak, perusahaan harus kembali menganalisis data, termasuk data baru, sehingga bisa mengambil keputusan yang lebih tepat. Ketika siklus tersebut dilakukan secara terus-menerus, perusahaan pun bisa disebut sebagai data-driven company.

Konsep data-driven company memang bukan merupakan hal baru, namun harus menemui tantangan besar di era digital seperti sekarang. Menurut lembaga riset DN Capital, setiap harinya tercipta 2,5 quintillon byte data, atau setara dengan empat kali menara Eiffel ketika disimpan di kepingan Bluray. Namun dari jumlah itu, diperkirakan hanya sekitar satu persen data yang telah dianalisis.

Berdasarkan fakta itu, terlihat bahwa menjadi data-driven. company bukanlah merupakan tugas yang mudah. Untuk mendapat gambaran bagaimana perusahaan Indonesia memanfaatkan data, InfoKomputer menyelenggarakan sebuah acara diskusi bertajuk CIO Storage Summit beberapa wakt. lalu. Pada acara yang didukung Hewlett-Packard Enterprise tersebut, InfoKomputer mengundang belasan CIO dari beres industri untuk berbagi pengalaman mereka dalam berbac data.

Pada acara tersebut, para CIO saling berdiskusi tentang strategi mereka dalam memanfaatkan data. Artikel di bawah ini menampilkan sebagian dari isi diskusi tersebut. Jika ingin mendapatkan informasi lebih lanjut tentang bagaimana perusahaan Indonesia memanfaatkan data, silakan kunjungi www.infokomputer.com.

MatahariMall : Membangun Kultur

Sebagai bagian dari Lippo Group, manajemen MatahariMaU dipenuhi orang-orang dengan pengalaman panjang. Namun hal ini tidak membuat mereka cuma mengandalkan intuisi para pemimpinnya. Seperti diungkapkan Komang Arthayasa (CTO MatahariMall), intuisi itu dipadukan dengan keputusan berbasis data. “Kami ingin agar keputusan kita tidak sekadar top to bottom enforcement, namun merupakan collective decision,” ungkap Komang.

Komang melihat, pendekatan berbasis intuisi dan data bisa dipadukan. “Keduanya bisa kolaborasi dan saling dukung,” ungkap Komang. Hal itu juga menghindarkan MatahariMaU dari budaya HIPPO atau highest paid person opinion. “Setiap orang punya inisiatif dan perspektif sendiri, namun kemudian mentah gara-gara highest paid person memiliki opini berbeda,” ungkap Komang mengungkapkan kelemahan budaya HIPPO.

Karena itulah, MatahariMall mendorong setiap orang, apapun levelnya, untuk selalu berani beradu argumentasi berbasis data. “Everyone can challenge everyone about everyting,” ungkap Komang menceritakan mantra MatahariMalL Meskipun memiliki posisi CTO, Komang mengaku tidak berkeberatan tim di bawahnya mempertanyakan keputusannya. “Yang penting setiap orang harus menggunakan data untuk menyampaikan opininya,” ungkap Komang.

Strategi Menuju Data-Driven Company

Kultur ini terus disuntikkan MatahariMall kepada seluruh tim melalui pendekatan dari atas ke bawah menggunakan role model strategy. “Kami tidak bisa membiasakan orang technical yang biasa coding kemudian harus bicara dengan data, jadi kami harus based on example,” ungkap Komang menceritakan tantangannya. Karena itu, strategi menularkan kultur itu harus dilakukan dengan memberi contoh, yang diharapkan akan membangun data-driven culture untuk semua level karyawan. “Jadi orang punya pemahaman dan intepretasi yang sama tentang data,” tambah Komang.

Untuk implementasinya sendiri, MatahariMall berangkat dari masalah. Setiap masalah akan dibuatkan analisisnya berdasarkan data. Pihak-pihak yang berkepentingan akan diberi raw data sehingga bisa membuat analisis. “Setiap orang bebas menginterpretasikan data,” ungkap Komang, untuk menekankan bahwa tidak ada pihak yang hasil analisisnya dianggap lebih penting dari yang lainnya. Dari hasil analisis,

muncul hipotesis. Nanti akan dipilih dua hipotesis terbaik berdasarkan keputusan bersama dan tujuan besar yang telah ditentukan sejak awal, yaitu profitability. Kedua hipotesa itu kemudian diuji ke kondisi sesungguhnya, sambil dihitung cost benefit analysis dari setiap hipotesis itu.

Sebagai perusahaan e-commerce, Komang mengaku tidak pernah mengalami kekurangan data. “Kalau bicara data, e-commerce is like heaven,” ungkap Komang sambil tersenyum lebar. Apalagi saat ini, teknologi sudah banyak tersedia sehingga memudahkan proses pengumpulan data. Komang sendiri tidak membatasi data apa yang bisa disimpan. “We try to track everything to measure everything possible,” ungkap Komang. la juga mengaku beruntung karena MatahariMall adalah bagian dari grup Lippo yang memiliki jaringan offline yang bagus.

Dari budaya berbasis data yang dicoba dibangun MatahariMall, Komang melihat beberapa keuntungan. “Saya kira manfaat paling besar adalah setiap keputusan menjadi keputusan bersama,” tambah Komang. Setiap kesuksesan maupun kegagalan—dari keputusan adalah tanggung jawab bersama.

Keuntungan lain adalah pertumbuhan bisnis. Berdasarkan analisis data, terungkap konsumen MatahariMall dari Papua ternyata cukup besar. “Tanpa data, mungkin kami tidak akan tahu hal ini,” ungkap Komang. Berdasarkan data kanal distribusi, terungkap bahwa pengakses MatahariMall mayoritas berasal dari komputer desktop. “Kenapa desktop lebih besar dari mobile dan apps? Jadi muncul hipotesa mungkin user experience kami di mobile itu jelek. Dari situ muncul inisiatif,” cerita Komang.

Komang mengakui bahwa membangun data-driven culture itu banyak tantangannya. Salah satunya adalah knowledge. “Meskipun sudah coba kumpulkan data, kami sering kali tidak tahu bagaimana memanfaatkannya,” ujar Komang. Tantangan lain adalah menyakinkan setiap level organisasi untuk memanfaatkan data. “Ke bawah oke, namun ke atasnya itu yang agak sulit,” ungkap Komang.

Namun membangun kultur memang membutuhkan waktu. Yang penting adalah, setiap orang sadar untuk membentuk kultur tersebut. Salah satu caranya adalah melakukan secara berulang agar kultur itu lama-lama terbentuk. “Jadi bagaimana caranya agar inisiatif ini bisa kita lakukan secara repetitif, dari top to bottom, dan melibatkan semua orang,” ungkap Komang.

Gojek:

Inovasi Berbasis Data

Di awal beroperasinya Go-Ride, Gojek sempat mengecap pengalaman pahit: sistemnya yang tidak scalable. “Kami menyentuh angka maksimal, 20 ribu order per hari,” ungkap Rama Notowidigdo (Chief of Product Gojek). Berdasarkan pengalaman berharga tersebut, Gojek pun bertekad untuk tidak pernah tinggal diam. Mereka harus selalu berinovasi, termasuk menjadikan data sebagai referensi utama.

“Kalau di Gojek, semua semua harus berdasarkan data,” ungkap Rama. Intuisi memang tetap ada, namun semuanya harus berujung pada data. Apalagi dengan jumlah pengguna mencapai 6 juta dan driver 150 ribu orang, Gojek memiliki data internal yang sangat kaya. “Kami manfaatkan data untuk merancang feature dan meningkatkan user experience,” tambah Rama.

Strategi Menuju Data-Driven Company

Salah satu contohnya adalah pada proses assignment driver Gojek. Pada model lama, setiap ada permintaan dari pengguna, assignment disebar ke empat belas driver Gojek terdekat yang ada di sekitar pemesan. Jika tidak dapat, assignment disebar ke empat belas driver di area yang lebih luas. “Tapi ternyata ada banyak masalah dengan sistem ini,” ungkap Rama.

Yang pertama adalah driver menjadi bersifat selektif memilih order yang akan diambil. Masalah lain adalah order pengguna bisa diambil driver Gojek yang berdasarkan posisi sebenarnya tidak ideal. “Contohnya yang ada di seberang jalan sehingga harus memutar dan lama,” ujar Rama mencontohkan. Hal ini menyebabkan conversion rate menjadi rendah.

Melihat data tersebut, akhirnya sistem assignment diubah. Ketika seorang pengguna memesan Gojek, sistem akan langsung mengarahkan order tersebut ke seorang driver yang terdekat. Driver harus menerima order tersebut, karena jika tidak, ia akan mengalami penalti di perhitungan kinerja yang terkait bonus.

Dengan sistem baru ini, user experience meningkat karena pengguna mendapatkan layanan secara cepat dan lebih pasti. Bagi driver, hal ini juga lebih adil. Yang tidak kalah penting tentu saja conversion rate menjadi meningkat tajam.

Namun solusi sebuah masalah tidak melulu harus dijawab dengan teknologi. “Solusinya bisa saja peningkatan sistem operasional,” tambah Rama. Salah satu contohnya adalah conversion rate pemesanan GoFood. Data menunjukkan, ketika jarak gerai GoFood di atas lima kilometer dari posisinya, driver cenderung tidak mau mengambil order tersebut. Mereka lebih memilih pemesanan GoFood berjarak 1-5 kilometer.

Melihat data tersebut, Gojek pun melakukan kebijakan operasional. Caranya dengan memberikan poin lebih besar kepada driver yang mau menerima pemesanan GoFood berjarak di atas lima kilometer. “Kalau jaraknya 1-5 km, driver mendapatkan 1,5 poin. Jika jaraknya di atas 5 km, poinnya menjadi 3 poin,” ungkap Rama mencontohkan.

Dari kasus GoFood ini, bisa dilihat kalau solusi sebuah masalah bisa dilakukan melalui pendekatan operasional. Namun solusi tersebut hanya bisa dilakukan ketika Gojek berhasil mengidentifikasi masalah lewat analisis data.

Kefasihan melihat data tersebut kian penting ketika Gojek menganut konsep learn startup model. Pada konsep ini, setiap inovasi dilakukan dengan tiga langkah sederhana, yaitu deploy, measure, dan learn. “Makanya kami bisa cepat,” ungkap Rama. Dengan pendekatan ini, memiliki produk setengah ja: pun sudah mencukupi selama fungsional dan menyelesaikan masalah.”Daripada produk yang full-engineered namun tidaK ada yang pakai,” ungkap Rama.

Bank Mandiri:

Perjalanan Panjang

Di era digital seperti sekarang, perbankan menjadi salah satu industri yang merasakan imbasnya. “Bank Mandiri sebagai organisasi yang highly regulated dan harus trusted dalam mengejar bisnis digital atau dalam era digital seperti saat ini memang menghadapi tantangan yang luar biasa,” ujar Muhammad Guntur (VP Bank Mandiri). Munculnya finteen yang menawarkan cara baru mengkonsumsi produk perbankan, membuat institusi perbankan harus terus berinvasi, salah satunya melalui pemanfaatan data.

Oleh Guntur diakui bahwa baru dalam dua tahun terakhir dengan hadirnya perusahaan-perusahaan finteen, Bank Mandiri mulai secara intensif mengolah data untuk melakukan inovasi bisnis. Namun itu pun terkadang membuat posisi bank menjadi serba salah. Peningkatan utilisasi produk digital agar nasabah menikmati efisiensi pun kadang mengundang reaksi dari masyarakat, misalnya saat Bank Mandiri akan menutup semua gate jalan tol dengan Gardu Tol Otomatis (GTO).

Strategi Menuju Data-Driven Company

Selanjutnya Muhammad Guntur memaparkan kondisi data management yang ada saat ini. Menurutnya, ada beberapa isu pada divisi Enterprise Data Management yang dikomandaninya. Pertama adalah isu data source yang belum meng-capture data tak terstruktur (unstrucured data). “Data-data dari social media belum bisa benar-benar diintegrasidengan data-data transaksi dan data-data nasabah kami.” papar Guntur. Walhasil bank pun mengambil langkah kerja sama dengan penyedia platform media sosial, misalnya Line sehingga pengguna media sosial tersebut dapat bertransaksi di aplikasi.

Tantangan lain adalah data yang masih terpisah-pisah (silo) dan aksesnya kadang-kadang langsung ke data source, bukan ke data mart yang ada. “Nah ini targetnya kami akan akan breakdown data source menjadi structured, semi structured dan unstructured untuk diolah jadi beberapa format yaitu raw, flat file (data sosmed dan image), RDBMS, dan Hadoop. Kami juga akan lakukan data processing,” imbuhnya. Menjaga kualitas data juga menjadi tantangan, mengingat industri perbankan adalah industri dengan aturan yang sangat ketat.

CitiLink:

Mulai dari Atas

Pemanfaatan data di CitiLink, menurut Ahmad Royan (CIO CitiLink), dimulai dengan sebuah masalah. “Data itu tidak akan ‘bunyi’ kalau kita tidak tahu apa yang akan kita angkat,” ujarnya.

Mirip seperti MatahariMall, strategi yang diterapkan divisi TI Citilink terkait pemanfaatan data adalah top to bottom. “Top management harus percaya hal ini, karena itu adalah kunci,” tambah Royhan. Ketika manajemen, utamanya CEO, sudah mau menggunakan data sebagai bahan untuk berbicara, ke bawahnya akan mudah ikut.

Tantangan kedua adalah bagaimana data culture bisa berkembang. “Kalau berdasarkan pengalaman kami, saya akan pilih dari elemen yang paling berpengaruh,” ungkap Royhan. Di industri maskapai penerbangan, yang menentukan adalah network dan strategi. Ketika strategi tahun ini, misalnya, menentukan rute ke daerah tertentu akan dibuka, keputusan itu akan menentukan keseluruhan strategi dari hulu ke hilir. “Oleh karena itu [data culture] saya mulai dari organisasi yang paling punya pengaruh terhadap perusahaan. Dari situ berkembang ke departemen Operations, misalnya bagaimana mengefisensikan bahan bakar,” tandas Royhan mencontohkan.

Sumber :

Info Komputer Desember 2016

Warung Komputer menyediakan layanan Jasa Pembuatan Website, SEO, Digital Marketing dan Jasa Service Laptop/Komputer yang memiliki tenaga ahli professional dan berpengalaman.

Warung Komputer | Your Trusted IT Partner
Telpon/WhatsApp : 0812-6186-6693
Email : mail@warungkomputer.co.id
Website : warungkomputer.com

, , ,
Previous Post
Meneropong Prosesor Baru 2017
Next Post
E-Commerce Tumbuh Tinggi, Gudang Bebenah Teknologi

Related Posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Kategori Artikel

Menu