Menumbuhsuburkan Mentalitas Founder di Perusahaan

0
24
Menumbuhsuburkan Mentalitas Founder di Perusahaan

Anda mungkin sudah sering mendengar pentingnya merekrut karyawan dengan mindset founder. Hal ini cukup populer di kalangan startup teknologi. Salah satu yang sering mengkampanyekan founder’s mindset adalah Reid Hoffman (Co-founder Linkedin).

Baru-baru ini, sebuah penelitian yang dilakukan Chris Zook dan James Allen dari Bain & Company mengkonfirmasikan betapa pentingnya mentalitas founder untuk menjaga pertumbuhan (growth) perusahaan. Tidak hanya di startup, hal ini berlaku untuk perusahaan dengan berbagai ukuran dan bidang usaha.

Mengapa pertumbuhan berkesinambungan sangat sulit dicapai dan dipertahankan? Pasalnya, kebanyakan eksekutif akan mencari jawaban pertanyaan ini dengan melihat faktor external, seperti mencari pasar yang menarik, memformulasikan strategi yang tepat, dan meraih pelanggan baru. Tetapi ketika Zook dan Allen meriset pertanyaan tersebut, mereka menemukan bahwa ketika perusahaan gagal mencapai target pertumbuhannya, sebanyak sembilan puluh persen penyebabnya adalah faktor internal, seperti: melebarnya jarak dengan front lines, kehilangan akuntabilitas, dan tumbuh suburnya birokrasi.

Penemuan kunci dari riset Zook dan Allen ini adalah pentingnya yang mereka sebut mentalitas founder-rangkaian perilaku yang biasanya dimiliki para founder yang berani dan ambisius-untuk memelihara speed, fokus, dan hubungan dengan pelanggan.

Sebelum memasuki definisi mentalitas founder dari Zook dan Allen, sebelumnya mari kita telaah terlebih dulu mentalitas founder yang sudah sebelumnya populer di lingkungan startup teknologi. Menurut saya, kedua istilah itu mewakili rangkaian perilaku yang hampir sama, yang berkaitan dengan sifat kewirausahaan.

Setiap pemilik perusahaan pastilah senang memiliki karyawan dengan perilaku seperti founder. Beberapa contoh cara berpikir seperti founder dari pengamatan sehari-hari, misalnya:

  • Founder cenderung berpikir dalam “big picture”. Mereka menunjukkan rasa ingin tahu pada semua aspek dalam bisnis.
  • Founder biasanya sangat fokus pada apa yang dikerjakan dan bisa mengatakan tidak pada hal lain yang berada di luar fokus utama.
  • Founder adalah owner, tentu saja rasa memilikinya sangat tinggi.
  • Founder juga biasanya seorang pemimpin yang hebat, yang bisa menginspirasi munculnya perilaku terbaik dari timnya.
  • Founder selalu menentang birokrasi dan tidak menerima status quo dalam mencapai visi mereka. Melalui penelitian selama satu dekade terhadap sejumlah perusahaan di lebih dari empat puluh negara, Zook dan Allen menemukan kuatnya hubungan antara mentalitas founder dengan kemampuan perusahaan mempertahankan kinerja yang baik. Hal ini terjadi tidak hanya di perusahaan startup, tetapi pada berbagai tipe perusahaan yang lain.

Salah satu alasan yang membuat banyak karyawan terbaik meninggalkan perusahaan adalah mereka merasa kurangnya penghargaan (recognition) dan reward atas pekerjaannya yang telah dilakukan dengan baik.

Mereka memformulasikan sifat-sifat yang termasuk dalam mentalitas founder yaitu terdiri dari:

  • Memiliki misi dan tujuan yang berani. Termasuk disini adalah memiliki misi yang berani, fokus pada apa yang menjadi kekuatan perusahaan, dan memandang dengan cakrawala yang tak terbatas.
  • Obsesi yang tanpa ampun dengan baris depan (front line). Sebagian besar founder adalah sales person pertama di perusahaan sehingga mereka sangat tertarik pada setiap detail dalam pengalaman customer, dan cenderung menggunakan insting yang terbangun dari pengalaman front liner ini dalam membuat keputusan.
  • Memiliki mentalitas owner yang kuat. Karyawan yang memiliki mentalitas owner akan berinvestasi pada perusahaan layaknya milik mereka sendiri. Mereka akan peduli pada pengeluaran perusahaan seolah itu adalah uang mereka sendiri, serta tidak menyukai birokrasi.

Melalui analisis yang mendalam dari berbagai contoh kasus, Zook dan Allen menemukan bahwa setiap pemimpin–bukan hanya sang founder— bisa menanamkan mentalitas founder ini ke seluruh organisasi. Hal inilah yang menjadi kunci pertumbuhan berkesinambungan serta proptabie pada perusahaan-perusahaan yang diriset.

Bagaimana Perusahaan Menyuburkan Mentalitas Founder ?

Sering saya mendengar perusahaan yang ingin merekrut karyawan dengan mentalitas founder, atau yang berjiwa entrepreneurship. Tetapi pada kenyataannya, di perusahaan sendiri, tidak dikembangkan sebuah lingkungan yang menumbuhsuburkan perilaku-perilaku tersebut. Hingga pada akhirnya, karyawan-karyawan berjiwa entrepreneur ini bosan dan keluar dari perusahaan, atau menjadi tidak lagi inovatif malas mengemukakan ide.

Riset juga membuktikan hal ini. Hanya sebanyak dua pu persen dari karyawan yang disurvei Accenture mengatakan manajer mereka mendorong ide-ide entrepreneuriat Survei lain juga membuktikan bahwa sebanyak tujuh puluh persen pengusaha sukses mengembangkan ide besar mereka ketika sedang bekerja pada organisasi mapan. Mereka kemudian keluar untuk mengembangkan ide usaha mereka sendiri.

Hal inilah yang ditangkap oleh perusahaan-perusahaan yang belakangan ini mengembangkan intrapreneurship (entrepreneurship dalam perusahaan). Perusahaan seperti Dreamworks, Linkedin, Google, dan Intuit sangat menumbuhsuburkan budaya intrapreneurship.

Sebagai leader, inilah yang harus Anda lakukan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung berkembangnya entrepreneurship dan mentalitas founder pada tim Anda:

  1. Secara aktif mendorong percakapan Banyak ide dan inovasi yang bisa lahir dari percakapan dan kegiatan saling bertukar pikiran. Sebagai leader, Andalar yang dapat menciptakan ruang dan struktur agar percakapar percakapan seperti ini dapat muncul. Makin banyaknya hierarki akan dapat menyulitkan seorang karyawan menyampaikan ide dan aspirasinya. Tidak jarang, merasa tak berdaya serta frustasi dengan politik internal dapat menyebabkan seorang karyawan yang aspiratif hengkang. Dengan mendengarkan ide dan aspirasi karyawan, mereka akan merasa terberdayakan serta terdorong untuk terus memikirkan inovasi-inovasi terbaik untuk perusahaan. Bos yang hanya ingin didengar saja dan selalu merasa lebih pintar dapat menghalangi tumbuhnya budaya entrepreneurship.
  2. Menindaklanjuti Ide Sebagai leader, Anda memiliki kemampuan untuk memberikan struktur dan petunjuk yang dibutuhkan karyawwan Anda dalam mengembangkan idenya. Anda juga memiliki kemampuan membawa ide tersebut ke level yang lebih ting atau bersama-sama mempelajari feasibility dari ide tersebut
  3. Mengizinkan kegagalan dan risiko Anda perlu menciptakan iklim yang menoleransi kegagal dan membuat karyawan menyadari risiko yang dapat terjadi dalam mengembangkan ide wirausahanya.
  4. Transparan Visi, tujuan dan strategi perusahaan bukanlah hanya konsumsi beberapa orang. Leader harus bersikap transparan terhadap timnya bila ingin menumbuhkan mentalitas foundi Karyawan akan merasa lebih memiliki bila mereka tahu ke mana arah perusahaan dan mengapa.
  5. Memberi reward pada inovasi Salah satu alasan yang membuat banyak karyawan terbaik meninggalkan perusahaan adalah mereka merasa kurangnya penghargaan (recognition) dan reward atas pekerjaannya yang telah dilakukan dengan baik. Untuk menciptakan budaya inovasi, cobalah memberikan reward kepada karyawan yang menunjukkan perilaku-perilaku yang mendorong inovasi. Perusahaan dapat merancang sebuah program yang membc reward pada perilaku-perilaku tertentu, reward tidak selalu harus berupa uang.

Sumber :

Info Komputer Oktober 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here