Kargo.co.id, Menjawab Tantangan Logistik Indonesia

0
56
Kargo.co.id, Menjawab Tantangan Logistik Indonesia

Pembangunan infrastruktur diharapkan bisa menurunkan biaya distribusi di negeri ini. Namun semua pihak harus ikut berpartisipasi, termasuk Kargo yang membantu para pelaku industri bebenah diri.

Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas dan terdiri dari banyak pulau, urusan distribusi di negeri ini memang menjadi masalah tersendiri. Masalah kian pelik jika mengingat belum meratanya pembangunan infrastruktur antardaerah. Hal inilah yang menyebabkan biaya logistik Indonesia tercatat tertinggi di Asia, yaitu 29% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

Pemerintah sendiri saat ini sedang giat menggenjot perbaikan infrastruktur yang diharapkan dapat menurunkan biaya distribusi. Namun bagi seorang Yodi Aditya, ada satu masalah mendasar yang juga perlu diperbaiki, yaitu perusahaan distribusi itu sendiri. “Mereka pengelolaannya masih sangat tradisional,” ujar Yodi mengungkapkan pandangannya.

Hal itulah yang mendorong pria lulusan Jurusan Teknika Fisika UGM untuk mendirikan Kargo (kargo.co.id). Pada dasarnya, Kargo adalah layanan yang membantu konsumen mengirim barang berukuran besar ke berbagai kota di Jawa dan Sumatera. Namun mirip seperti Gojek, Kargo tidak memiliki armada. Kargo lebih sebagai penyedia sistem yang membantu konsumen maupun perusahaan distribusi (dalam hal ini pemilik truk).

Sebagai penyedia platform, Kargo mencoba menawarkan keuntungan bagi kedua belah pihak. Bagi perusahaan distribusi, Kargo menawarkan sistem TMS (transportation management system). Sistem ini akan meningkatkan kemampuan operasional perusahaan sekaligus memberikan aksesibilitas informasi yang tinggi terhadap pelanggan.

Sementara di sisi konsumen, Kargo menawarkan kemudahan dan efisiensi. Untuk mengirim barang, konsumen cukup masuk ke situs Kargo (Kargo.co.id) dan menentukan tujuan serta jenis truk yang ingin digunakan. Setelah itu, mereka akan mendapatkan deretan perusahaan distribusi yang bisa dipilih, termasuk jika ingin mendapatkan harga yang paling kompetitif.

Konsumen bahkan bisa berhemat lebih banyak dengan memilih truk yang siap berangkat menuju kota tertentu namun masih memiliki kapasitas tersisa. Di situs Kargo, akan terpampang data rute truk siap jalan dan kapasitas tersisa yang masih tersedia. “Penghematan di sisi logistic cost bisa mencapai 30%,” ungkap Yodi. Dengan begitu, kedua pihak bisa diuntungkan. Konsumen bisa mendapatkan harga lebih murah, perusahaan distribusi pun memperoleh tingkat okupansi yang lebih tinggi.

Pulang Kampung

Jika menengok ke belakang, Kargo bisa dibilang asimilasi dari perjalanan karier Yodi selama ini. Setelah lulus kuliah, ia sempat membuat startup Doocu yang bergerak di bidang dokumen. Namun karena ingin memberi manfaat lebih besar, Yodi memutuskan ke perusahaan konsultan penerbangan Flight Focus yang berpusat di Singapura. “Kami membangun software optimalisasi operasional pesawat,” cerita Yodi. Berkat software tersebut, perusahaan penerbangan seperti AirAsia bisa menurunkan biaya operasional sampai sepuluh persen. Setelah itu, Yodi berpindah-pindah ke beberapa perusahaan di Singapura sampai akhirnya kembali ke Indonesia.

Ada idealisme tersendiri mengapa Yodi memutuskan kembali ke tanah air. “Saat di Singapura saya melihat banyak teknologi bagus yang bisa memberikan impact besar di Indonesia,” ujar Yodi mengungkapkan alasannya. Salah satunya adalah konsep optimalisasi operasional pesawat yang kemudian diterapkan di Kargo ini. “Kami ingin memberikan solusi logistik yang efektif sehingga cost otomatis menjadi turun,” tambah Yodi.

Bersama lima belas orang timnya, Yodi pun mendirikan Kargo di November 2015. Awalnya Kargo menjajal sistem distribusi dalam kota, lalu berkembang menjadi antarkota di Juni 2016. “Namun masih terbatas di Jawa dan Sumatera,” ungkap Yodi. Kepada para pengusaha truk, Kargo menawarkan solusi TMS berikut pelatihan cara penggunaannya. Untuk mengejar tingkat adopsi, sistem TMS Kargo ini pun masih gratis digunakan pemilik truk. “Ke depannya akan berbasis transaction fee,” ujar Yodi menjelaskan model bisnis Kargo.

Meski menawarkan berbagai perubahan bagi pengusaha, akusisi vendor menjadi tantangan utama Kargo. “Untuk mencari perusahaan trucking yang tersebar di seluruh Indonesia ini sangat susah,” ungkap Yodi sambil tersenyum lebar. Mayoritas pengusaha tidak bergabung di asosiasi, serta jarang yang menyebutkan eksistensinya di internet. “Bahkan banyak yang tidak punya papan nama di kantornya,” ungkap Yodi. Walhasil, kini Kargo lebih banyak mengandalkan penawaran door-to-door yang terbilang memakan waktu dan tenaga.

Meskipun begitu, Kargo saat ini sudah mampu bekerja sama dengan enam puluh perusahaan distribusi. “Satu perusahaan bisa memiliki 50 sampai 300 truk,” ungkap Yodi menggambarkan armada yang kini tergabung di Kargo. Untuk menjamin kualitas layanan, Kargo melakukan seleksi yang cukup ketat kepada perusahaan truk. Yang pertama adalah perusahaan tersebut harus sudah menjadi badan usaha. “Kami juga mengecek mereka telah pernah mengirim ke mana saja dan siapa kliennya,” tambah Yodi.

Namun berkaca dari keadaan di lapangan, rendahnya kualitas layanan perusahaan distribusi sebenarnya banyak disebabkan sistem pengerjaan yang masih manual. “Contohnya soal salah kirim atau dokumen terselip, itu penyebabnya karena semua proses masih berlangsung manual,” ungkap Yodi. Ketika beralih menggunakan sistem berbasis digital, sebagian besar masalah itu bisa diatasi.

Tingkat layanan pun lebih meningkat karena adanya sistem tracking berbasis real-time dan point (misalnya sudah sampai ke gudang tertentu).

Tidak cuma Truk

Konsumen Kargo sendiri kebanyakan perusahaan, termasuk e-commerce yang mendistribusikan produk jualannya ke pembeli di berbagai daerah di Indonesia. Dibandingkan perusahaan logistik lain, Kargo memang menawarkan harga yang lebih kompetitif. “Kalau pengiriman barang besar, mereka (perusahaan logistik reguler, red) biasanya mengitung volume lalu ada faktor pengali berat,” ungkap Yodi. Sementara perhitungan Kargo berbasis kapasitas truk. Konsumen bisa memilih seluruh kapasitas truk (FTL, Full Truck Load) maupun sebagian (LTL, Less Truck Load) dari berbagai jenis truk yang tersedia. “Jadi lebih murah,” tambah Yodi.

Dalam waktu dekat, Kargo akan mengembangkan sistem yang mengintegrasikan sistem TMS tersebut ke sistem yang ada di perusahaan. Contohnya bagaimana perusahaan bisa mengintegrasikan pengiriman barang saat keluar dari warehouse yang selama ini sulit dilacak. Atau bagaimana sistem Kargo bisa terintegrasi ke sistem e-commerce sehingga memudahkan estimasi kedatangan barang. “Dengan adanya integrasi itu, sistemnya akan lebih efektif. Jika sudah efektif, harga pasti akan lebih bagus,” ujar Yodi.

Rencana Yodi dengan Kargo tidak cuma berhenti di situ. Dalam 1-2 tahun mendatang, Kargo ingin bisa mengintegrasikan pengiriman barang berukuran besar di semua moda distribusi. “Mulai dari truk, kapal, sampai pesawat,” ungkap Yodi.

Pembangunan infrastruktur yang digenjot Pemerintah memang akan menjadi faktor pendukung rencana tersebut. Namun dengan kondisi belum ideal seperti sekarang, Yodi yakin Kargo tetap bisa meningkatkan efisiensi perusahaan logistik. “Seiring infrastruktur yang lebih baik, efisiensi akan lebih tinggi lagi,” ungkap Yodi.

Sumber :

Info Komputer Oktober 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here