Hybrid Cloud, Agar Perusahaan Lincah di Era Idea Economy

0
46
Hybrid Cloud, Agar Perusahaan Lincah di Era Idea Economy

Era idea economy mewajibkan setiap perusahaan sigap melahirkan inovasi demi memenangkan kompetisi. Dan untuk menjawab tantangan ini, infrastruktur yang lincah seperti Hybrid Cloud adalah jawabannya

Selamat datang di era Idea Economy. Sebuah era ketika nilai kesuksesan diukur dari seberapa cepat perusahaan bisa mengembangkan ide menjadi sesuatu yang bernilai bagi bisnis.

Kecepatan mewujudkan ide dan kelincahan dalam menjawab kebutuhan konsumen merupakan dua kunci sukses perusahaan startup seperti Uber dan Airbnb. Mereka tidak butuh waktu hingga belasan tahun untuk menjelma sebagai jasa penyewaan kendaraan dan akomodasi penginapan terbesar di dunia. Di lingkup lokal, kita bisa melihat fenomena Go-Jek yang baru-baru ini mencatatkan diri sebagai startup unicorn pertama asal Indonesia.

Pertanyaan selanjutnya, bagaimana perusahaan startup bisa bergerak secepat dan selincah itu? Pada umumnya, startup digital lainnya mendasarkan layanan mereka pada cloud computing. Bisa dikatakan, mereka mengalihdayakan ( outsource) sumber daya Tl mereka ke penyedia layanan cloud. Dengan demikian, mereka tidak perlu berinvestasi besar-besaran untuk pengadaan infrastruktur Tl.

Pendekatan berbasis cloud computing inilah yang perlu ditiru oleh perusahaan-perusahaan mapan agar mampu bersaing dengan para startup itu.

“Selama ini, banyak perusahaan lebih mengenal infrastruktur fisik. Memang kita bisa membangun dan memilih sendiri server, storage, dan network-nya apa. Tapi, ketika butuh kapasitas tambahan, kita harus melakukan proses pengadaan barang yang tahapannya sangat panjang,” ujar Yudistira Arsie (Country Category Manager, Storage Division, HPE, Indonesia).

“Sedangkan kalau memakai cloud, saat butuh kapasitas tambahan, kita tinggal request dan deploy sendiri infrastruktur yang ada di cloud. Prosesnya jauh lebih cepat,” sambungnya.

Hybrid Cloud: Gabungan Kenyamanan dan Keamanan

Dalam memanfaatkan cloud computing sendiri, perusahaan biasanya dihadapkan dengan tiga pilihan layanan cloud.

Pertama, public cloud-infrastruktur off-premise yang disediakan oleh penyedia layanan cloud dan digunakan banyak perusahaan. Public cloud menawarkan kenyamanan lebih karena pelanggan tidak perlu memikirkan perawatan infrastruktur. Kedua, private cloud-infrastruktur on-premise yang bisa diakses melalui private network oleh sebuah perusahaan. Private cloud disukai karena memberi level kontrol dan kustomisasi yang lebih besar bagi perusahaan.

Pilihan ketiga adalah hybrid cloud yang “mengawinkan” kelebihan-kelebihan private cloud dan public cloud sehingga memberikan fleksibilitas bagi pengguna. Contoh penggunaannya, institusi pemerintah atau lembaga

keuangan yang sesuai regulasi, harus menyimpan data-data warga negara atau nasabah di infrastruktur on-premise. Tapi, mereka bisa menempatkan data, sistem, dan aplikasi lainnya yang non-critical di infrastruktur off-premise.

“Di hybrid cloud ini, kita bisa gabungkan antara infrastruktur milik kita dan akun public cloud. Saat perlu kapasitas tambahan, kita bisa expand ke cloud yang ada. Kalau end user butuh server tambahan, kita bisa deploy dengan cepat,” kata Yudistira. “Tapi, hanya untuk kebutuhan secondary. Kalau untuk kebutuhan primer, lebih baik kita menambah server fisik,” imbuhnya.

Permasalahan kemudian timbul jika perusahaan tidak memiliki infrastruktur existing yang punya fleksibilitas untuk terhubung ke cloud. Artinya, perusahaan butuh “jembatan” yang bisa menghubungkan infrastruktur tradisional dan cloud ini. Opsi lainnya, perusahaan harus berinvestasi pada infrastruktur baru yang cloud-ready.

Apa pun pilihannya, HPE siap menyediakan solusi berupa Infrastruktur, platform, maupun software bagi perusahaan yang ingin bertransformasi menuju digital enterprise.

Ada Converged System yang mengintegrasikan server, storage, dan network dalam sebuah appliance siap pakai. Ada pula Hyper-Converged System yang sudah diperkaya dengan solusi virtualisasi pre-installed. Selain itu, ada HPE Helion yang berperan untuk mengelola private dan hybrid cloud dari satu konsol saja. Terakhir, ada Composable Infrastructure, arsitektur baru yang dikembangkan sesuai kebutuhan pelanggan.

Aneka solusi cioud-ready tersebut adalah bahan baku yang dibutuhkan jika perusahaan Anda ingin lebih gesit dan lebih cepat dalam mewujudkan ide-ide bisnis baru, supaya tidak kalah bersaing dengan para startup digital.

Hewlett Packard

Sumber:

Info Komputer Oktober 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here