Microsoft Build 2016, Ketika Manusia dan Mesin Berkolaborasi

0
12
Microsoft Build 2016, Ketika Manusia dan Mesin Berkolaborasi

Kemajuan teknologi komputasi memunculkan kekhawatiran suatu hari komputer akan menggantikan manusia. Namun Microsoft ingin menunjukkan, manusia dan mesin sebenarnya bisa berkolaborasi.

Saqib Shaikh kehilangan penglihatannya sejak usia 7 tahun. Namun kekurangan itu tidak membuatnya muram, la melanjutkan pendidikannya di sekolah tuna netra, yang mengantarkannya berkenalan dengan konsep komputer yang bisa berbicara. “Sejak itu saya sadar, dunia terbuka luas untuk saya,” ujar Shaikh.

Ketika dewasa, Shaikh berkesempatan menjadi software engineer di Microsoft, la pun mulai membangun aplikasi yang membuat tunanetra sepertinya bisa merasakan apa yang terjadi di sekitarnya.

Kini, berbekal kacamata yang yang dilengkapi kamera, Shaikh bisa melakukan banyak hal yang tidak terbayang sebelumnya. Contohnya, ia bisa memesan menu di restoran karena kacamata tersebut bisa memotret menu dan membacakan menu untuknya,la juga bisa mengetahui bagaimana ekspresi orang yang sedang mengobrol di depannya karena ada aplikasi yang bisa memperkirakan umur maupun mimik orang tersebut.

Shaikh menceritakan hal tersebut saat diundang Satya Nadella (CEO Microsoft) ke atas panggung Build 2016. Bagi Satya, cerita Shaikh tersebut menjadi contoh yang sempurna┬ábagaimana teknologi bisa mengubah dunia. “Sebagai pengembang aplikasi, kita memiliki kesempatan dan tanggung jawab yang luar biasa tidak hanya untuk mengubah, namun juga membangun masa depan” ungkap Satya.

Teknologi Alternatif Jadi Aplikasi Pintar

Build sendiri adalah konferensi tahunan Microsoft yang ditujukan bagi developer untuk mengenal berbagai terobosan teknologi yang telah dan akan dilakukan Microsoft ke depan. Tahun ini, Build diselenggarakan di San Fransisco, AS dan dihadiri ribuan developer dari seluruh penjuru dunia, termasuk InfoKomputer.

Saat membuka di Build 2016 ini, Satya menggarisbawahi pentingnya peran teknologi dalam kehidupan manusia saat ini. “Teknologi telah menyatu dalam tiap perusahaan, industri, dan kehidupan kita sehari-hari” ungkap Satya. Teknologi yang maju sedemikian cepat bahkan menimbulkan kekhawatiran peran manusia akan tereliminir dan menjadi bumerang bagi perkembangan peradaban manusia ke depan.

Namun Satya mengaku optimis hal itu tidak akan terjadi. “Saya percaya teknologi akan membantu kemajuan ekonomi semua bangsa di dunia. Saya juga percaya teknologi dapat memperkaya kehidupan sehari-hari umat manusia” tambah Satya.

Keyakinan Satya itu bisa dilihat dari rangkaian teknologi yang ditunjukkan Microsoft di ajang Build ini. Salah satu yang mengemukakan adalah peran bot alias software pintar yang akan membantu pengguna dalam kehidupan sehari-hari. Hal ini telah dilakukan Microsoft sejak dua tahun lalu ketika memperkenalkan Cortana. Dengan kemampuan mencari informasi di internet, Cortana menjadi asisten pribadi yang serba tahu dan memudahkan hidup penggunanya.

Ke depan, Microsoft menjanjikan Cortana akan semakin pintar dan terintegrasi dengan berbagai aplikasi yang digunakan pengguna. Dalam salah satu demo, Marcus Ash (Group Program Manager Cortana) berkata “Cortana, bisakah kamu mengirim file PowerPoint yang saya kerjakan semalam ke Chuck?”, Cortana bisa langsung mencari file tersebut dan sesaat kemudian berkata “Saya menemukan file PowerPoint ini, benarkah?” tanya Cortana. Pengguna tinggal melihat sejenak apakah file tersebut benar, dan dokumen pun bisa langsung terkirim.

Dalam konteks yang lebih luas, bot dan mesin pintar sebenarnya juga bisa digunakan oleh perusahaan dalam meningkatkan layanannya. Dalam demonya, Microsoft menunjukkan bagaimana bot bisa membantu konsumen memesan pizza di situs Dominos. Konsumen yang memesan pizza cukup mengetikkan kalimat seperti “Tolong antarkan pizza ke rumah” di kolom yang tersedia di situs tersebut. Bot bisa langsung mendeteksi permintaan tersebut, menanyakan hal penting seputar pemesanan (seperti ukuran dan rasa pizza serta alamat yang dituju) tanpa campur tangan operator manusia.

Jika tidak mengerti permintaan konsumen, bot tersebut akan meneruskannya ke operator. Namun yang mengagumkan adalah bot tersebut bisa “belajar” dari transaksi tersebut, sehingga ia semakin pintar dan bisa menanggapi permintaan sejenis di kemudian hari.

Saling Terhubung

Dengan memudahkan developer membangun bot, Microsoft berharap seluruh bot tersebut dapat “mengobrol” dengan Cortana untuk menghasilkan pengalaman yang seamless.

Contohnya kira-kira seperti ini. Suatu hari Anda chatting dengan istri Anda dan memutuskan untuk pergi ke Bandung pada akhir minggu ini. Anda kemudian meminta “Cortana, bisa carikan hotel di Bandung untuk akhir tahun nanti?. Mendengar permintaan itu, Cortana akan menampilkan daftar hotel yang bisa Anda pilih, langsung di jendela chatting Anda. Setelah diskusi, Anda dan istri kemudian sepakat untuk memilih, misalnya, Hotel Panghegar.

“Mendengar” keputusan itu, Cortana akan bertanya “apakah Anda ingin melakukan pemesanan ke Hotel Panghegar?”, Jika Anda bilang iya, Cortana akan “memanggil” bot dari Hotel Panghegar yang akan langsung menjadi teman chatting Anda. “Halo, saya dari Hotel Panghegar. Apakah benar Anda akan memesan satu kamar untuk tanggal 31 Desember 2016 selama dua malam?”. Anda cukup bilang iya, dan hotel pun sudah terpesan.

Kira-kira seperti itulah gambaran aplikasi pintar yang hadir dalam bentuk Cortana maupun bot. Aplikasi ini bisa berpikir dan berinteraksi layaknya manusia, sehingga membantu pengguna melakukan sesuatu dengan lebih cepat dan efisien. Seperti contoh di atas, bot bisa langsung menerima pesanan hotel saat kita butuhkan, tidak seperti layanan manusia yang terkadang mengharuskan kita menunggu.

Akan tetapi, penggunaan bot tentu mengandung resiko. Seperti contoh situs Domino’s di atas, sang bot mungkin salah menerima pesanan, yang tentu saja akan menurunkan reputasi Domino’s. Dalam konteks etika,┬ásebagian pengguna mungkin akan tersinggung ketika tahu yang menjawab keluhannya adalah software buatan. Kasus yang paling ekstrem juga bisa terjadi seperti bot buatan Microsoft, Trey, yang justru menjadi rasialis karena “belajar” dari pengguna internet yang iseng.

Adam Sohn (Head of Media Relation Microsoft), mengakui ada ada banyak hal yang harus disempurnakan dari teknologibot ini. Adam melihat, bot untuk tugas yang spesifik, seperti bot pemesanan pizza, akan lebih aman dari kesalahan atau penyalahgunaan. “Sedangkan untuk bot yang fungsinya lebih global, kita memang harus mencari keseimbangan tersebut” tambah Adam. Namun Adam yakin, bot di masa depan akan lebih cepat “belajar” sehingga terhindar dari kesalahan.

Dengan kata lain, bot akan semakin pintar dan mampu menggantikan sebagian tugas manusia. Kalau begitu, apakah kekhawatiran teknologi akan “menggantikan” manusia menjadi tepat? Satya menepis kekhawatiran tersebut. “Ini bukan soal manusia melawan mesin, namun tentang kolaborasi manusia dan mesin dan keduanya memiliki kelebihan yang unik” ungkap Satya. Manusia memiliki kreativitas dan empati, sementara komputer bisa memproses data dengan cepat. Dengan menggabungkan dua hal tersebut, potensi yang bisa dicapai bisa sangat besar.

Contohnya adalah cerita Shaikh di atas. Aplikasi SeeingAI pada dasarnya dibangun di atas layanan Microsoft Cognitive Services. “Kemajuan teknologi artificial intellegence begitu pesat saat ini sehingga dapat mewujudkan hal-hal yang tidak pernah terbayang sebelumnya” ungkap Shaikh.

Dengan kata lain, teknologi akan terus berkembang tanpa bisa kita bendung. Pertanyannya adalah bagaimana kita mampu memanfaatkan dan bukan justru terlindas kemajuan teknologi tersebut.

Sumber : Info Komputer Mei 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here