Cheng Wei CEO Didi Chuxing, Langkah Berani Demi Dominasi

0
13
Cheng Wei CEO Didi Chuxing, Langkah Berani Demi Dominasi

Cheng Wei pernah mengambil keputusan mengejutkan yang membuat sebagian timnya berderai air mata. Namun langkah tersebut terbukti berhasil memperkokoh posisi perusahaannya di industri ride-sharing Tiongkok.

Saya tidak bisa nyetir,” ungkap Cheng Wei dengan jujur saat berbicara di depan ratusan  peserta World Economic Forum. Fakta ini bisa dianggap ironi jika mengingat Wei adalah CEO dari Didi Chuxing, perusahaan  ride-sharing terbesar di Tiongkok. Namun jika ditengok dari kacamata lain, Wei adalah representasi ideal atas kebutuhan transportasi konsumen Tiongkok. Sebagai warga Tiongkok yang memiliki aturan ketat soal kepemilikan mobil, Wei mengandalkan layanan transportasi publik saat beraktivitas.

Akan tetapi, Wei pernah merasakan sulitnya mendapatkan taksi di Beijing dan kota besar lainnya di Tiongkok. Saat masih bekerja di Alibaba, Wei sering ketinggalan pesawat akibat susah mendapatkan taksi di jam sibuk. Pengalaman itulah yang mendorong Wei untuk keluar dari Alibaba di tahun 2012 untuk membuat layanan taksi online bernama Didi Dache.

Layaknya layanan baru, Didi Dache tidak langsung dikenal publik. Wei dan tim harus rela berjuang keras memperkenalkan layanan mereka, seperti berdiri melawan dingin saat membagikan brosur kepada calon konsumen di stasiun dan bandara Beijing. Namun perjuangan itu berbuah manis ketika kondisi alam “mendukung”. Pada November 2012, terjadi badai salju di Beijing yang membuat taksi sulit dipanggil. Didi Dache pun mulai dikenal publik sampai akhirnya membuat kesengsem salah satu raksasa internet Tiongkok, Tencent, yang kemudian menggelontorkan investasi sebesar US$15 juta.

Bersatu di Hari Valentine

Namun Didi Dache tidak sendirian di bisnis taksi online. Mereka memiliki saingan berat bernama Kuaidi Dache yang menawarkan layanan sejenis. Di belakang Kuaidi Dache pun terdapat Alibaba, raksasa internet terbesar Tiongkok. Tidak mengherankan ketika kemudian persaingan keduanya berlangsung sengit melalui program promo dan subsidi yang menggiurkan.

Di sisi lain, Uber mulai mencoba menanamkan eksistensinya di negara tirai bambu tersebut. Tidak tanggung-tanggung, Uber menggelontorkan dana sampai US$1 miliar untuk bisa merebut dominasi dua pesaing lokalnya tersebut.

Fakta inilah yang kemudian menyadarkan Wei dan Dexter Liu (pendiri Kuaidi Dache). Mereka sadar bersaing hanya akan membuat mereka lengah dan lemah menghadapi Uber. Akhirnya kedua seteru itu mengambil langkah mengejutkan dengan melakukan merger tepat di tanggal 14 Februari 2015. “Kompetisi antara kami hanya akan membuang tenaga dan memperlambat langkah ke depan,” ujar Wei kala mengumumkan merger tersebut.

Bersatunya Didi Dache dan Kuaidi Dache sempat membuat kaget personil di kedua tim. “Awalnya banyak yang memprotes langkah ini, bahkan beberapa di antaranya sambil menangis,” ujar Wei mengenang hari-hari itu. Namun Wei dan Liu berhasil menyakinkan timnya untuk bisa menerima keputusan merger dengan nilai US$6 miliar. Apalagi, Didi Dache dan Kuaidi Dache tetap beroperasi sebagai dua perusahaan terpisah. Alhasil tidak ada satu pun petinggi di dua perusahaan ini yang hengkang akibat merger ini. “Merger ini adalah yang paling sukses selama sejarah perusahaan internet di Tiongkok,” klaim Wei.

Koalisi keduanya kemudian disebut dengan Didi Chuxing (Didi adalah istilah untuk bunyi klakson, sementara Chuxing artinya perjalanan). Chen Wei dan Dexter Liu duduk sebagai Co-CEO Mereka kemudian merekrut Jean Liu, wanita berusia 37 tahun yang sebelumnya bekerja di Goldman Sachs. Liu, yang juga putri pendiri Lenovo, menempati posisi sebagai President Didi Chuxing yang bertugas memimpin operasional Didi Chuxing.

Kami percaya layanan lokal jauh lebih mengerti kebutuhan konsumen dan mampu memberikan layanan yang lebih baik

Melalui kolaborasi ini, Didi Chuxing pun berhasil menjadi raja ride-sharing di Tiongkok. Data menunjukkan, Didi Chuxing kini melayani 300 juta pengguna di lebih dari empat ratus kota di seluruh Tiongkok. Setiap hari ada lebih dari 11 juta tumpangan untuk seluruh layanannya. Ekosistem pengemudi pun sudah terbentuk jika melihat keberadaan 14 juta pengemudi yang terdaftar di layanan ini. Didi Chuxing menguasai 99% pemesanan taksi dan 87% pasar pemesanan mobil pribadi, jauh meninggalkan Uber yang sebenarnya sudah habis-habisan berusaha masuk pasar Tiongkok.

Mengapa Didi Chuxing berhasil menangkal gempuran pemain global seperti Uber? “Kami percaya layanan lokal jauh lebih mengerti kebutuhan konsumen dan mampu memberikan layanan yang lebih baik,” ungkap Wei. Hal ini bisa dilihat dari munculnya layanan Hitch, yang memberikan kesempatan bagi pengguna Didi Chuxing memberikan tumpangan kepada pengguna lain (mirip seperti layanan Nebengers di Indonesia). Didi Chuxing juga memberikan layanan bis umum yang menghubungkan kawasan perumahan di pinggiran kota dan pusat kota.

Pendek kata, Didi Chuxing menjadi platform yang menyatukan semua moda transportasi. Sementara di sisi lain, Uber lebih fokus di fasilitas ride-sharing dan mengandalkan iming-iming subsidi untuk menarik minat pengemudi. “Saya kira perusahaan AS yang mengandalkan strategi burning money tidak akan mampu mengalahkan perusahaan lokal Tiongkok,” ujar Wei dengan percaya diri.

Meskipun begitu, Didi Chuxing pun tidak menutup diri untuk berkolaborasi dengan perusahaan dari luar Tiongkok. Pada akhir tahun 2015 kemarin, Didi Chuxing menjalin kolaborasi dengan layanan ride-sharing dari berbagai negara, seperti Lift (AS), Ola (India), dan GrabTaxi (Singapura). Melalui kolaborasi ini, pengguna bisa menggunakan aplikasi ride-sharing dari setiap negara tersebut saat berada di negara lain. Kolaborasi ini makin memperkokoh posisi Didi Chuxing dan koleganya dalam menghadapi serbuan Uber.

Investasi Apple

Hal itulah yang bisa menjelaskan mengapa Didi Chuxing kini mendapat kepercayaan tinggi dari para investor. Di tengah investasi startup yang sedang lesu, Didi Chuxing dengan mudah meraih pendanaan dari nama-nama besar seperti Alibaba, Tencent, SoftBank, dan Temasek. Namun investasi paling mencengangkan tentu saja dari Apple, yang menggelontorkan dana US$1 miliar pada pertengahan Mei kemarin. “Saya sangat terkesan dengan pengembangan bisnis yang mereka lakukan, dan berharap bisa membantu mereka lebih maju lagi,” ungkap Tim Cook saat mengumumkan investasi ini.

Apple jarang melakukan investasi ke perusahaan lain, sehingga langkah ini bisa dibilang kemenangan masif bagi Didi Chuxing. Apalagi investasi ini dilakukan Apple di tengah rumor yang menyebutkan Apple sedang membangun autonomous car. Jika dua potensi itu disatukan, bisa terbayang potensi yang akan tercipta.

Akan tetapi semua kesuksesan itu tidak membuat Cheng Wei lengah. “Langkah selanjutnya adalah mengembangkan artificial intelligence dan machine iearning yang akan menjadi kunci pengembangan Didi Chuxing nantinya,” ungkap Wei. Salah satu contohnya adalah Didi Chuxing bisa mengerahkan armadanya ke lokasi sibuk, bahkan sebelum ada pesanan dari pengguna.

Bagi Didi Chuxing dan Cheng Wei, memang tidak ada kata berhenti untuk berinovasi.

Sumber : Info Komputer Juni 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here