Theresia Tristini IT Commonwealth Bank

0
70

Sederet penghargaan yang berhasil ia raih sudah menunjukkan talenta wanita ini di dunia IT. Namun Theresia Tristini memiliki cara tersendiri dalam mendefinisikan keberhasilannya sebagai IT leader.

Sebuah kompas mungil menghiasi meja kerja Theresia Tristini. Meski mungil, kompas tersebut sebenarnya menggambarkan pencapaian besar wanita yang biasa dipanggil Theresia ini. Kompas itu diberikan sebagai tanda dimulainya proyek transformasi besar-besaran di PT. Bank Commonwealth (Commonwealth Bank). Dan karena transformasi itu banyak melibatkan perubahan sistem, peran Theresia sebagai sosok tertinggi di departemen IT Commonwealth Bank menjadi sangat krusial.

Program transformasi itu sendiri dinamakan Compass (Commonwealth Bank Platform Advancement for Superior Sales and Service). Berlangsung sejak tahun 2013, Compass bertujuan meningkatkan proses dan layanan dari Commonwealth Bank. “Pertama agar kita lebih efisien, kedua untuk meningkatkan customer experience,” ungkap wanita ramah ini. Dari sistem IT, perubahan terjadi pada lima sistem, mulai dari core banking, internet banking, mobile banking, data warehouse, sampai regulatory.

Masifnya proses transformasi itu tentu saja membutuhkan banyak pengorbanan. “Satu bank gak bisa tidur,” ujar Theresia sambil tertawa. Namun semua pengorbanan itu berbuah manis. Proyek Compass berhasil terselesaikan pada tahun lalu setelah menempuh perjalanan selama 22 bulan. Theresia dan tim pun mendapat penghargaan CEO Award dari induk perusahaan, Commonwealth Bank Australia (CBA), atas keberhasilan melakukan transformasi. Prestasi Theresia juga terdengar di komunitas iCIO yang kemudian menganugerahkannya sebagai The Most Intelligence CIO 2016.

“Saya juga surprised,” ujar Theresia dengan rendah hati soal semua pencapaian membanggakan itu.

Mendorong Tim

Namun jika ditilik ke belakang, pencapaian tersebut sebenarnya juga menggambarkan kegigihan wanita ini menjalani kariernya di bidang IT. Setelah lulus dari computer science Universitas Atmajaya di tahun 1995, Theresia mengawali karir sebagai IT Support di Zurich Insurance. Mengurus komputer dan kabel, termasuk menelusup ke kolong meja, menjadi pekerjaannya sehari-hari. “Saya memulainya benar-benar dari bawah,” tambah Theresia mengenang awal karirnya.

Setelah tiga tahun di sana, Theresia kemudian pindah ke Bank Danamon. la mengawali kariernya sebagai business analyst, sebelum dipercaya memegang sistem aplikasi, operation, sampai membangun call center Danamon dari awal. Setelah sepuluh tahun, Theresia mencari tantangan baru dengan pindah ke DBS Indonesia sebelum akhirnya menjadi Head of IT di Commonwealth Bank.

Dalam posisinya sekarang, tanggung jawab Theresia terbilang sangat besar. Selain menjamin keberlangsungan semua sistem IT di Commonwealth Bank di Indonesia, Theresia bersama 138 anggota timnya juga harus mengelola sistem IT Commonwealth Bank Vietnam. “Di luar Australia,

Infrastruktur IT kita bisa dibilang yang paling komplit secara bisnis maupun kapabilitas,” tambah Theresia. Mengemban tanggung jawab sebesar itu, Theresia justru tidak menganggap teknologi sebagai tantangan utama. “Yang terberat justru mengelola orang,” ungkap wanita yang hobi melakukan kegiatan sosial tersebut. Menurut Theresia, teknologi akan selalu bergerak cepat, namun tidak akan menjadi tantangan jika kita memiliki orang yang tepat. Karena itu, Theresia mengaku sangat fokus untuk mengembangkan timnya agar selalu terdepan dalam pemahaman soal teknologi, tren, dan pasar.

Theresia mengaku beruntung berada di tim CBA yang ia anggap memiliki maturity jauh lebih tinggi dari Indonesia. Apalagi, CBA memiliki program yang disebut Capability Exchange Program. “Kita bisa mengirim orang-orang kita ke sana untuk belajar,” tambah Theresia. Di sisi lain, suasana kerja yang mengedepankan pembelajaran juga mengobarkan semangat tim IT di Commonwealth Bank. “Kita jadi excited untuk belajar satu hal yang baru,” tambah Theresia.

Satu hal yang kini intensif dipelajari adalah bagaimana mewujudkan proses kerja yang agile. Melalui proses ini, diharapkan setiap ide di sisi bisnis dapat diimplementasikan dengan cepat untuk menjawab ritme persaingan bisnis yang kian ketat. “Jika menggunakan metodologi konvensional, delivery project bisa mencapai enam bulan,” tambah Theresia mencontohkan cara kerja yang selama ini terjadi. Namun dalam proses kerja agile, sebuah inisiatif bisa diimplementasikan dalam waktu minggu.

Perbedaan mendasar dari dua metodologi ini adalah bagaimana tim bisnis dan IT bekerjasama. Dalam proses kerja konvensional, tim IT dan bisnis mengerjakan pekerjaannya sendiri-sendiri sehingga terbentuk silo. Sementara di sistem kerja agile, tim IT dan bisnis digabung ke dalam satu tim— bahkan satu ruangan—saat mengerjakan sebuah inisiatif bisnis.

Interaksi yang lekat antara dua pemangku kepentingan itu membuat proses berjalan lebih gegas. “Dinamikanya akan sangat berbeda,” ungkap Theresia. Efek positif lain adalah terjadinya transfer pengetahuan yang membuat dinding pemisah antara IT dan bisnis menjadi kian samar. “Orang bisnis akan mengerti IT, orang IT akan mengerti bisnis,” tambah Theresia.

Theresia mengakui, proses kerja agile ini membutuhkan proses. “Awalnya orang mungkin ragu karena pola kerjanya berbeda,” tambah Theresia. Namun semua keraguan itu bisa dikikis jika kita rajin melakukan coaching dan transfer knowledge dari pimpinan. “Jika habit itu sudah terbentuk, proses selanjutnya akan cepat sekali,” tambah Theresia menyakinkan.

Kami memang bukan pionir, tetapi selalu memanfaatkan teknologi terbaru karena BEI adalah pusat perdagangan saham dan penyedia infrastruktur bagi pasar modal di Indonesia

Salah satu implementasi proses kerja yang agile tersebut dilakukan saat membangun mobile apps untuk kegiatan perbankan nasabah Commonwealth Bank. “Sebelum kita mendesain sebuah solusi, kita melakukan survei customer behaviour terlebih dahulu,” tambah Theresia. Tim lalu turun ke lapangan untuk mencari tahu apa sesungguhnya yang diinginkan nasabah. Hal ini menjadi penting karena sebuah aplikasi perbankan harus intuitif dan mudah digunakan.

Selain intuitif, sebuah mobile apps produk perbankan juga harus aman. Hal ini sangat krusial utamanya bagi Commonwealth yang selama ini terkenal sebagai salah satu bank teraman di dunia. “Semakin banyaknya mobile apps, semakin banyak orang yang coba hack,” tambah Theresia. Tantangan tersebut dijawab dengan menerapkan standar keamanan yang ketat bagi untuk mobile apps Commowealth. Beberapa contohnya adalah menggunakan developer yang telah mengantongi sertifikat serta melakukan pengujian rutin terhadap kemungkinan adanya lubang keamanan.

Peningkatan keamanan juga dilakukan dengan terus meningkatkan awareness di sisi internal Commonwealth. “Kami selalu menekankan pentingnya security awareness dan information confidentiality,” ungkap Theresia mencontohkan.

Dengan semua prestasi yang telah ditorehkan, karier seorang Theresia Tristini sebenarnya sedang berada di puncak. Namun wanita ini memiliki definisi lain untuk mengukur kesuksesannya. “Saya merasa berhasil jika tim saya berhasil,” ungkap Theresia. Baginya, mengembangkan talenta orang-orang di sekitarnya adalah hal yang selalu membuatnya semangat. “Melihat anggota tim saya berkembang dan secara pribadi menjadi lebih baik adalah sebuah passion tersendiri bagi saya,” tambah Theresia menceritakan sumber kebahagiannya.

Itu juga yang menjelaskan “kepasrahan” Theresia melihat pilihan dua anaknya yang sepertinya tidak akan mengikuti dirinya. “Dua-duanya lebih berminat di seni. Tidak ada yang mau kerja di bank atau Tl,” ujar Theresia sambil tertawa. Putra pertamanya lebih memilih menjadi pelukis, sementara putri keduanya gandrung membuat lagu dan aransemen. Hal ini tidak lepas dari darah seni sang ayah yang aktif di dunia musik.

Jadi jangan heran jika rumahnya kini penuh dengan lukisan dan alat musik sebagai bentuk dukungan terhadap bakat kedua anaknya. “Kalau saya jadi penikmat saja,” ujar Theresia sambil tersenyum lebar.

Sumber : Info Komputer April 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here