Virginia Rometty, CEO IBM yang Pekerja Keras

0
28
Virginia Rometty, CEO IBM yang Pekerja Keras

Menyampingkan Kenyamanan

Kerja keras sudah mendarah daging di diri seorang Virginia Rometty. Karena bagi orang nomor satu di IBM tersebut, pertumbuhan dan kenyamanan tidak bisa berjalan beriringan.

Merangkak dari bawah

Dunia teknologi kini tak lagi angker. Banyak wajah-wajah cantik dan sukses menghiasi dunia yang didominasi oleh kaum pria itu. Salah satunya adalah Virginia Rometty, CEO sekaligus Chairwoman IBM. la menjadi fenomena di dunia teknologi karena merupakan wanita pertama yang memimpin perusahaan teknologi terbesar di dunia yang berusia lebih dari seratus tahun.

Wanita yang biasa disapa Ginni ini juga mampu memberikan perspektif baru kepada CEO agar bisa menjalankan perusahaan secara berkesinambungan di tengah perubahan dunia yang berlangsung cepat. Kerja keras dan kemampuan Ginni akhirnya mampu menjawab pesimisme yang sempat mengiringi karirnya.

Saya banyak membuat kesalahan. Dua kesalahan terbesar saya adalah tidak cukup cepat bergerak dan tidak berani mengambil risiko

ketika tidak banyak wanita yang melirik jurusan teknik elektro, Gini justru memasukinya. Wanita berambut pirang lini lulus dari Robert R. McCormick School H of Engineering dan Applied Science I di Universitas Northwestern dengan jenghargaan tertinggi.

Setelah lulus, Ginni sempat mampir” di General Motors Institute. H Dua tahun kemudian, Ginni bergabung keIBM pada tahun 1981. Karlrnya dimulai sebagai teknisi sistem cabang Detroit, bekerja bersama klien di industri asuransi.Di akhir tahun 1990-an, Ginni

Derhasil membangun membangun reputasi di antara klien-kliennya sebagal orang yang Inovatif. Barbara Koster, chief information Prudential H£ Financial mengatakan, Ginni selalu

 Tahukah Anda?

Meski berasal dari keluarga broken home, Ginni dan tiga saudaranya sangat sukses di karir. Dua adik perempuan Ginni menjadi pejabat senior di Accenture Consulting dan Coca Cola, sementara adik laki-lakinya adalah CEO Allenberg Cotton Co (pialang kapas terbesar di dunia)

Menekankan bahwa internet merupakan alat penjualan yang penting. Ginni membantu Prudential membangun situsnya sehingga bisa menawarkan data real-time kepada konsumen.

“Sangat mengesankan bekerja bersama dia. Ketentuan teknik yang ia sampaikan sangat visioner,” kata Koster tentang kinerja Ginni.

Sebuah kesempatan besar datang ketika pada tahun 2002, PricewaterhouseCoopers (PwC) mengalami tekanan untuk mendivestasi bisnis Jasa Konsultan PwC Consulting. Adalah IBM yang kemudian menyambar tawaran akuisisi PwC senilai 2,5 miliar dollar AS, dan menunjuk Ginni untuk mengintegrasikan PwC Consulting ke dalam IBM.

Ketika itu, tantangan terbesar Ginni adalah meyakinkan para konsultan PwC yang sudah berpengalaman agar tetap bersama IBM. Hal ini tentu saja merupakan sebuah tantangan besar karena budaya bisnis yang sangat berbeda.

Namun Ginni berhasil mengintegrasikan PwC Consulting ke dalam divisi Global Services IBM dengan tetap mempertahankan sembilan puluh persen konsultan senior. Keberhasilannya melakukan integrasi berbuah penghargaan “Cari Sloane Award 2006” oleh Asosiasi Perusahaan Jasa Konsultan.

Menepis Keraguan

Kesuksesan Ginni di IBM Global Services mencuri perhatian Sam Palmisano (CEO IBM kala itu) dan jajaran petinggi IBM lainnya. Ginni pun diganjar kenaikan pangkat sebagai Managing Partner divisi Business Consulting. Lalu pada Januari 2009, Palmisano memberikannya tanggung jawab untuk divisi penjualan, yang mengontrol hubungan dengan klien-klien.

Kesuksesan demi kesuksesan divisi yang ditangani Ginni makin memukau. Sejak itu, ia dikenal sebagai salah satu pebisnis wanita yang paling berpengaruh oleh majalah Fortune. Sampai akhirnya per Januari 2012, Ginni dipercaya sebagai Chairwoman sekaligus CEO IBM.

Ketika diangkat menjadi CEO, Ginni langsung menghadapi banyak kritikan tajam dari media dan para analis di Wall Street. Banyak orang yang tidak yakin ia mampu menjaga kesuksesan “Big Blue”. Pesimisme itu bukan tanpa alasan. Di bawah kepemimpinan Palmisano, IBM secara konsisten melaporkan pertumbuhan pendapatan dalam beberapa tahun terakhir.

Bukan Ginni jika tidak mampu menjawab semua tantangan. IBM kini masih bisa mempertahankan diri sebagai salah satu perusahaan terbesar di dunia. Pada tahun 2013, IBM memiliki 466.955 karyawan dengan penjualan mencapai 10,51 miliar dollar AS. IBM berada di peringkat ke-34 pada daftar perusahaan terbesar di dunia dengan laba mencapai 16,6 miliar dollar AS.

Kesuksesan memimpin IBM mengantarkan Ginni sebagai salah satu wanita paling berpengaruh di dunia. Majalah Forbes menempatkannya di posisi ke-56 di jajaran orang paling berpengaruh di dunia dan peringkat ke-12 wanita paling berpengaruh di dunia, la pun menempati jajaran elit kelompok wanita-wanita dengan bayaran tertinggi dan berpengaruh kuat di dunia teknologi. Sebuah dokumen yang diungkap NY Daily News mengungkapkan Ginni menerima hingga 14,5 juta dollar AS atau sekitar Rpl74 miliar pada tahun pertamanya menjabat sebagai Chairwoman.

la masuk dalam “Daftar 50 Wanita Paling Berpengaruh di Dunia Bisnis” versi Majalah Fortune selama delapan tahun berturut-turut, bahkan menduduki peringkat pertama pada tahun 2012. Namanya juga berada dalam daftar Time 100 tahun 2012.

Apa kunci sukses Ginni? Ternyata ia tak pernah berhenti untuk belajar tentang hal yang baru. la selalu berusaha mengalahkan setiap tantangan yang dihadapinya.

“Saya selalu melakukan hal yang tidak pernah saya kerjakan sebelumnya. Pertumbuhan dan kenyamanan tidak bisa berjalan beriringan,” kata wanita yang gemar scuba diving itu.

Sumber : Info Komputer Maret 2014

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here