Komang Arthayasa, Mimpi Seorang Calon Sarjana

0
53
Komang Arthayasa, Mimpi seorang Calon Sarjana

Mimpi seorang Calon Sarjana

Hanya dalam waktu tiga bulan, ia harus membangun sistem e-commerce sekelas penguasa pasar. Bukan tugas yang ringan, namun seorang Komang Arthayasa memang suka tantangan.

Jika nasib berkata lain, seorang Komang Arthayasa mungkin lebih dikenal seorang petani. Lahir di tengah desa petani di Canggu, Bali, Komang mengaku sanga: suka bercocok tanam. Membajak sawah menggunakc” kerbau menjadi kenikmatan sendiri bagi pria yangjuc; hobi membaca buku ini.

Namun dunia teknologi telah menarik nasib Komang menjalani kisah hidupnya seperti sekarang. Bermula dari hobinya belajar komputer, Komang kini menjalani karir para di dunia Tl. “Saya mulai di tahun 2003 sebagai freelance membuat CD interaktif dan game Flash” kenang Komang.

Setahun kemudian, ia bergabung dengan Soltria yang kemudian menelurkan layanan TokoBagus. Sempat keluar untuk membantu Newmont dan Telstra, ia bergabung lag; 1 TokoBagus saat perusahaan e-commerce tersebut merombak total backend-nya menjadi open-source. Tahun 2013, ia keluar lagi dari TokoBagus dan merintis bisnis sendiri sampai akh ^ diajak Hadi Wenas (CEO MatahariMall.com) untuk bergabung membesarkan Matahari Mali.

Komang pun langsung menyambar kesempatan tersebut karena alasan sederhana, “Saya suka tantangan” Dan tantangan yang Komang hadapi memang tidak main-main, yaitu menjadikan MatahariMall sebagai perusahaa-e-commerce nomor satu di Indonesia.

Kerja Keras

MatahariMall hadir ketika dunia e-commerce Indone; sudah ramai dan ketat dalam persaingan. “Ada kompetisi yang njomplang karena sudah banyak giant di sana” ujar pria yang selalu blak-blakan saat berbicara tersebut. Implikasinya ke berbagai hal, termasuk tuntutan kepada Komang dan tim untuk mempersiapkan sistem Tl MatahariMall secara cepat dan mampu mengejar para raksasa tersebut.

Apalagi, konsep e-commerce MatahariMall terbilang kompleks karena menggabungkan tiga jenis model bisnis. Ketiga model itu adalah retail (artinya berjualan produk sendiri), marketplace (menyediakan tempat untuk rekanan berjualan), serta managed-marketplace (mengelola produk jualan rekanan). Belum lagi MatahariMall juga memiliki konsep OEO (Online-to-Offline) yang memungkinkan pembeli mengambil produk yang mereka beli secara online di jaringan Matahari.

Perbedaan masing-masing proses sebenarnya sedikit, namun secara sistem Tl efeknya menjadi besar. “Kita butuh beberapa tools seperti warehouse systems, tracking management systems, dispatcher, dan banyak tools lainnya” jelas Komang menggambarkan kompleksitas tinggi yang ia hadapi. Untuk menjawab tantangan ini, Komang pun mencoba menyelaraskan kebutuhan yang ada dengan teknologi yang tersedia saat ini. Prinsipnya terbilang lugas: picking the right tools for the job. “Tidak perlu terlalu fancy namun juga jangan tertinggal terlalu jauh secara teknologi” ungkap pria yang mendapat ilmu dengan belajar secara otodidak ini.

Hal itu penting mengingat MatahariMall sejatinya bukan tech-company, melainkan sales-company. “Jadi tugas kami adalah memastikan customer mendapatkan pengalaman terbaik saat berbelanja” tambah Komang. Apalagi jika mengingat konsumen praktis telah memiliki komparasi soal berbelanja online. “Jika tidak mendapatkan the best experience, konsumen pun dengan mudah berbelanja di tempat lain” ungkap pria yang terbiasa membaca dua buku per bulan ini.

Komang mengaku hanya punya waktu tiga bulan mempersiapkan sistem Tl MatahariMall sebelum resmi dirilis pada September 2015 kemarin. Pada awalnya, beberapa permasalahan terkait sistem Tl MatahariMall sempat mengemuka. Namun Komang merasa beruntung memiliki tim yang kompeten dan mampu menanggulangi setiap permasalahan yang ada. “Mereka adalah orang-orang yang saya kenal sebelumnya, sehingga saya tahu capability maupun personality mereka” ungkap Komang.

Saat ini, praktis sistem Tl di MatahariMall sudah stabil meski bukan berarti Komang bisa sejenak bersantai. Tantangan terbesar saat ini adalah menghadapi concurrent user di MatahariMall yang bisa mencapai 50 ribu saat peak time. Hal itu biasanya terjadi saat ada promo belanja, apalagi yang berbasis periode tertentu. “Bagaimana sistem itu bisa scaling user dan transaksi pada saat bersamaan” ujar Komang mengungkapkan tantangannya.

MatahariMall sendiri mengelola sendiri mayoritas infrastrukturnya, dan hanya sebagian kecil yang menggunakan cloud. “Sekitar 70:30” ungkap Komang menggambarkan proporsi infrastruktur on-premise dan cloud. Namun ke depan, Komang berencana menambah proporsi cloud agar infrastruktur MatahariMall kian fleksibel menangani lonjakan pengguna, la juga berharap bisa menggunakan penyedia jasa cloud lokal Indonesia, tidak seperti sekarang yang menggunakan layanan cloud dari luar. “Sayangnya di Indonesia belum banyak yang bisa memberikan skalabilitas, support, dan expertise seperti layanan cloud luar” ujar Komang.

Mimpi Sederhana

Komang dan tim saat ini juga sedang sibuk mengembangkan vesi mobile dari MatahariMall, utamanya mobile web. Akses ke MatahariMall memang masih didominasi desktop maupun mobile apps, namun data menunjukkan kian banyaknya pengguna menggunakan mobile browser. “Dugaan kami adalah di kala senggang, konsumen mencari-cari produk lewat mobile web, namun melakukan transaksinya lewat desktop” tambah Komang. Karena itu, Komang melihat pentingnya membuat situs MatahariMall versi web browser yang memberikan pengalaman terbaik ke pengguna.

Setiap ada tantangan mengembangkan software seperti ini, Komang pasti akan ikut serta melakukan coding. Bukan karena ia tidak percaya kepada timnya, namun coding memang sudah menjadi jalan hidupnya. “Saya kalau tidak coding itu rasanya bosan” ungkap Komang sambil tertawa lebar. “Saya sebenarnya orang technical, bukan orang manajemen” tambah Komang.

Namun pria yang hobi naik motor ini juga mulai “menerima” konsekuensi menjadi CTO yang tidak saja harus mengelola pekerjaan, namun juga orang. Dalam kesehariannya, Komang kini sibuk menggerakkan timnya yang berjumlah 30 orang untuk menjawab setiap permasalahan maupun pengembangan sistem Tl MatahariMall.

“Tugas kami adalah memastikan customer mendapatkan pengalaman terbaik saat berbelanja”

Apalagi dalam hal mimpi, Komang tidak pernah setengah-setengah. “Target kami di MatahariMall selalu shooting star and hopefully ended in the moon” ungkap Komang. Itulah mengapa Komang selalu mendorong timnya memasang target tinggi sebagai modal semangat saat bekerja. Tak heran ketika ditanya apa targetnya dalam waktu 1-2 tahun ke depan, Komang dengan lugas menjawab “MatahariMall sudah menjadi e-commerce terbesar di Indonesia”.

Namun Komang juga memiliki mimpi yang terbilang sederhana, yaitu menjadi sarjana. “Saat ini saya masih kurang 10 SKS di Stikom Bali” ungkap Komang sambil tertawa lebar. Sebenarnya ketika lulus SMA, Komang sempat mencicipi bangku kuliah di LP3I Bali. Namun kesibukan bekerja membuatnya mandek meneruskan kuliahnya. Kini ia bertekad menyelesaikan kuliahnya di Sistem Informatika Stikom Bali meski sudah setahun ia tinggalkan.

Bukankah ia justru lebih “jago” dibanding dosennya? Komang tidak merasa seperti itu. “Secara practical mungkin iya, tapi secara teoritis dan organisasi, saya banyak belajar dari mereka” tambah Komang. Ketika ditanya pencapaian paling membanggakan, Komang dengan nada merendah pun menunjuk posisinya saat ini. “Bagi orang yang belum lulus kuliah seperti saya, berada di posisi saat ini sudah menjadi pencapaian tersendiri” tambah Komang.

Komang pun tidak akan melepaskan mimpinya menjadi petani. Sebulan sekali, ia menyempatkan diri kembali ke Bali. Selain menjenguk keluarga, ia juga menengok lahan pertanian hidroponik (bercocok tanam menggunakan pipa) yang ia kembangkan di kampung halaman. Sesuai kesukaannya dengan teknologi, sistem pengairan hidroponik milik Komang ini pun menggunakan microcontroller dan robotik.

“Semoga suatu hari saya bisa kembali ke kampung halaman dan membantu petani di desa saya”

 Sumber : Info Komputer Juni 2016

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here